Narayana

NARAYANA

Narayana adalah saudara kembar Kakrasana/Karsana. Kresna adalah putra Prabu Baladewa, Raja Mandura dengan permaisuri Dewi Mahendra.

Pada waktu masih kecil, Narayana dtitipkan bersama dengan Kakrasana dan Dewi Wara Sembadra kepada asuhan Antagupa dan Nyai Sagopi di Padepokan Widarakandang. Alasan diungsikan ini karena ancaman dari Kangsa, kakaknya yang menginginkan tahta Mandura.

Walaupun persembunyian itu dirahasiakan namun akhirnya Kangsa mengetahui juga bahwa putra mahkota Mandura telah keluar istana dan disembunyikan. Kangsa berketetapan hati untuk membunuh Kakrasana, Kresna dan Sembadra.

Kangsa kemudian membuat siasat dengan mengadakan aduan, dimana yang diadu adalah manusia. Ia mengajukan pamannya sendiri yaitu seorang raksasa bernama Ditya Kala Suratimantra. Suratimantra mempunyai kesaktian banyu semangka,  yaitu apabila dalam perang dia tewas akan hidup lagi jika dimasukkan ke dalam air tersebut.

Untuk menghadapi Suratimantra, Prabu Basudewa mengutus Ugrasena ke pertapaan Retawu untuk meminjam Arya Sena/Wijasena/Bima yang akan dijadikan jago Mandura melawan Suratimantra. Arya Prabu Rukma diutus ke Widarakandang untuk melihat perkembangan putra-putra Mandura yang disembunyikan di sana. Apakah putra-putra Mandura sudah siap menghadapi Kangsa jika terjadi peperangan terbuka.

Bima telah bersedia menjadi jago Mandura. Kakrasana telah berhasil menjadi satria dengan mendapatkan senjata Nanggala dan Alugura. Sedangkan Narayana telah mendapatkan senjata Cakra dan Pusaka Kembang Wijayakusuma.

Adu jago antara Mandura dan Sengkapura telah dimulai. Bima menjagi jago Mandura. Kakrasana dan Narayana sengaja menyamar menjadi penonton saat adu jago. Pertarungan Wijasena dan Suratimantra berlansung sangat seru, jika Wijasana berhasil membunuh Suratimantra maka dengan kesaktiannya Suratimantra bisa hidup kembali. Adik Wijasena, yaitu Arjuna merasa harus menolong kakaknya. Pusaka Arjuna diam-diam dimasukkan ke dalam banyu semangka sehingga kesaktiannya hilang.

Di tengah keramaian ini, Kangsa melihat dua orang yang satu berkulit putih dan yang satu berkulit hitam. Kangsa mencurigai ini adalah Kakrasana dan Kresna. Kangsa segera mengejar dan akhirnya terjadi perang antara Kangsa melawan Kakrasana dan Kresna. Suratimantra yang mengetahui kejadian ini hendak keluar dari gelanggang, tetapi Wijasena segera menangkap dan membunuh Suratimantra. Tidak seperti yang telah terjadi sebelumnya, setelah dimasukkan ke banyu semangka ternyata Suratimantra tidak hidup kembali. Akhirnya Wijasena dinyatakan menang.

Tetapi, kejadian menjadi lain, perang terjadi antara Kangsa melawan Kakrasana dan Narayana semakin seru. Namun akhirnya Kangsa kalah terkena pusaka Nenggala dan Cakra. Tahta Mandura pun akhirnya bisa diselamatkan dari ancaman Kangsa dari Sengkapura. Kakrasana menjadi raja di Mandura bergelar Prabu Baladewa.

Melanjutkan kisah Narayana, ketika Kakrasana akan menikah, Narayana lah yang mencarikan prasyarat yaitu berupa patah sakembaran sebagai persyaratan perkawinan.

Narayana dengan bantuan Pandawa bisa menahlukkan Dwarawati dari Prabu Narasingha dan kemudian naik tahta dengan gelar Prabu Sri Bathara Kresna. Udawa yang telah setia menjadi sahabatnya sejak masih di Widarakandang diangkat menjadi patih negara Dwarawati.

Menurut buku Ensiklopedi Wayang purwa, wanda Narayana ada tiga yaitu :

  1. Mangu,
  2. Rungsit dan
  3. Glenes.

 

Sedangkan dalam buku Tuntunan Keterampilan Tatah dan Sungging Wayang, wanda Narayana ada wanda Jejaka dan Geblak.

Dalam buku Wanda Wayang Kulit gaya Surakarta terdapat 6 Wanda, yaitu :

  1. Wanda Bocah, dengan ciri, praupan lancap, mata jait, bibir bagai ujung biji sawo, leher longok, badan hitam dan dada mungal, pinggang kecil dan busana tanpa uncal, garuda kinjengan, rambut terurai halus gelang binggel satu. Wanda ini yang gunakan saat lakon Kangsa Lena.
  2. Narayana Geblag, praupan longok, mata lancap, leher panjang dan longok, pundak sengkleh, badan warna hitam, sumping panjang dan garuda kecil. Wanda ini digunakan saat lakon di Widarakandang.
  3. Narayana wanda Widarakandang, rambut halus dan rata, badan hitam, busana tanpa uncal, gelang binggel satu dan jamang piles. Narayana ini digunakan untuk srambahan.
  4. Narayana wadan Jaka. Praupan lancap, mata brebes, leher longok, pundak mleret --rendah bagian belakang--, dada mungal, pinggang kecil, busananya garuda sedang, jamang ada dua, rambut terurai, gelang kaki nganggrangan bagian bawah menggunakan sembuliyan.  Digunakan untuk srambahan.
  5. Narayana wanda Srengat, jamang ada dua, badan gembleng. Digunakan untuk lakon sesudah Kangsa hingga bertemu dan menikah dengan Rukmini.
  6. Narayana wanda Sembada, praupan agak luruh, mata pajeg, leher arak manglung, pundak mleret sedikit, badan agak gemuk, warna gembleng atau hitam, busana rambut terurai, garuda pendhe dan sumping pendek. Wanda ini digunakan untuk bertemu putri, misalnya dalam lakon Narayana Maling.


 


 

 

World Puppet

Informasi seputar dunia pewayangan

Brajadenta, putra Pringgondani yang mbalela

Brajadenta adalah putra ketiga Prabu Arimbaka, adik Prabu Arimba da

....

JATAYU

Garuda Jatayu adalah putra resi Briswawa.

....

Narayana

NARAYANA

....

938 M / 861 Saka

Prabu Jayabaya memindahkan dan memperbesar gambar wayang dari daun Tal ke kulit yang dipahat dan diberi cempurit dari bambu. Sengkalannya adalah candraning wayang wolu. Pendapat ini bertentangan dengan sejarah karena Prabu Jayabaya memerintah pada tahun 1130 sampai 1160 M.